2021

Twenty twenty too? What the Heck!

SAME ME, DIFFERENT UPS AND DOWNS MOMENTS

I completely have no idea what I am doing right now. Look, alone watching Marvel movie in my room while eating some chocolate coated cashews. 2021 was cool, fun and dope.

and just like that——-

Still, as always and always, I am so grateful for everything that I have done this year. Will talk more later about this year. Happy New Year everybody!

Turning 32

I don’t usually write late on my birthday. I am sorry, bloggy! I barely even write this year, what a shame. But don’t be mad, I am here right now. I am on leave, now at my lovely hometown. Tonight, I am yours!

Hey, I am turning 32. Mocking me? What? tell me what are you thinking right now? But wait, before you spill out foookin” sarcasm words, let me say something for my birthday. 🙂

Well………

What can I say but thank you? No words even can describe how grateful I am. Yes, I couldn’t thank enough, God, for your blessings and all of the kindness/joys/laughters/safety/healthy that you gave me for my whole life. I am turning 32, that’s just a number, isn’t it? should I worry, God?. To be honest I am little worried but I am not sure what’s that about. I just can tell you that this year is wonderful. A year that made me so concern about my health (physical, spiritual and mental). Taking care of my body is what I love to do these days, buy my own groceries, prepare my food, more exercise, read and watch healthy books, studies/documentaries, more mindful and adulting (on progress) . During this pathetic pandemic, I am more likely to act: plan less, enjoy more. I don’t wanna feeling so overwhelmed in any situations. Be present is the key. Focus on what happened today, be grateful of it, enjoy and embrace the moment with myself, friends, family and my boyfriend.

What’s new this year? Nothing much actually. Oh! I purchased an annual body care package (my armpits treatment, to be exact). Never have ever I imagined to do that so. Self-reward,yo?. The other new thing is work out quite intensively. I spent my money on buying 2,3 and 4 kg of dumbbelss set. Sounds obsessed? hihihi.

Any birthday wishes? Absolutely. Should I write it here? hmmm

to be continued——

Little simple things : better life

Here I come, my luvy blog. I actually have many things to write but yah, begitulah. Satu sisi saya merasa menjadi tidak bertanggungjawab dengan dirimu, I know! I’m sorry but really, I didn’t mean to. Well, here I am now and I would like to share about something interesting what I’ve done lately.

Anw, saya pernah baca buku “the Power of habit” , versi e-booknya karena you know, saya sudah tidak terlalu tertarik dengan mengoleksi buku “fisik”, I’m done with it, cukup baca digitally saja. Point yang cukup menarik dan terhilight dalam buku karya Charles Duhigg tersebut adalah point soal bagaimana kebiasaan itu bekerja disetiap individu yang kemudian terangkum dilingkaran 3 hal : A cue, A routine and A reward atau sebuah tanda, rutinitas dan ganjaran. Ganjaran bukan berarti yang buruk saja , yah, melainkan adalah buah/hasil dari 2 element yang mengikutinya, could be positive or negative. Nah, speaking about kebiasaan. Saya ingin share beberapa kebiasaan baru yang saya jalani dikeseharian saya. I can say it turns out make me feel better and happier. Apa sajakah itu? well- let’s break it down!

  1. Puasa
    Hal yang sedikit challenging untuk dilakukan “rutin” tapi it really gives us lot of health benefits. Setelah berpuasa selama sebulan di Ramadhan kemarin, saya mencoba menyempatkan untuk berpuasa paling tidak 1-2 hari dalam seminggu. Disisi agama bagus dan sisi kesehatan tubuh juga bagus. Puasa atau abstain dari makanan/ minuman ini sudah dipraktikan sejak abad ke-5 BC oleh Hippocrates.
    Banyak study yang menyatakan bahwa dengan berpuasa, kita membiarkan tubuh kita untuk lebih fokus untuk bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Misalnya, berpuasa adalah salah satu proses detoksifikasi tubuh, membuang racun-racun yang berbahaya di dalam tubuh, bisa mengurangi kadar kolesterol, memperbaiki gula darah, dll. So why not?


  2. Tahajud

    Sebenarnya tujuan saya shalat Tahajud karena konon katanya doa pasti dikabulkan. Ternyata eh Ternyata, ada side effect yang saya rasakan saat melakukan itu, yakni pikiran dan hati saya jadi tenang. Enak aja gitu sepi, sunyi, shalat jauh lebih mindful dan sesi curhat ke Tuhan bikin lega gitu. (Unek-unek, masalah, kabar baik, gratitude apapun itu, saya pikir jauh lebih enak sharingnya ke Tuhan daripada orang, eh, because people don’t stay) hahhaaa

  3. Prep my own meals

    Masak makanan sendiri tenyata jauh lebih menyenangkan. I found it really makes me more mindful, lebih aware tentang what I put into my body. Jujur, saya lebih banyak tahu jenis sayuran/buah-buahan, nutrisi yang terkandung di bahan makanan yang saya beli, banyak baca journal /riset kesehatan, menghargai makanan dan para petani (the man behind the gun) aziikk. Saya percaya soal “good food, good mood” dan quote Hippocrates ” Let food be thy medicine and medicine be thy food”. Kalau good mood, otomatis happy kan? I feel it and its true.
    FYI, I’m ditching out soda (Coke,Sprite etc) and junk food for like 3 years now. Nggak pernah makan/order di McD/KFC/BK lagi. Never!. Chips, snack2 yang lack of nutrition sampai mie instan saja, yah, udah lama banget nggak nyetok. I prefer to make my own pasta or noodle. Pun kalau beli mie, pasti yang homemade dan fresh.

  4. Wash my bed sheet regularly

    Pokoknya mesti nyuci seprei setelah pemakaian maximal 7 hari. Sampai pakai reminder,loh di hp. LOL. Kebiasaan ini ternyata efeknya positif banget.Tidurku lebih nyenyak karena nggak gatal. Bayangin, tadinya seprei pake sampe sebulan nggak diganti. It’s gross I know dan mungkin ini juga yang buat rambut saya cepat lengket, lepek padahal dah sering shampoan. Kadang muncul jerawat juga. Sadar atau nggak, keringat , kulit mati dari badan kita bercampur dengan dębu dan sisa make up di wajah itu bikin nggak sehat dan nggak nyaman.

  5. Morning dance

    Oh Man! this is really a good thing to do. Trust me. Spare your time a few minutes to dance with loud and happy-beat songs. It will change your mood. Trust me. Rock the floor before go to work.

  6. Read good news, watching good movies

    Saya percaya kualitas tidur ternyata bisa dipengaruhi oleh apa yang kita baca atau apa yang kita lihat sebelum tidur. Saya sudah mulai membiasakan hal baru untuk tidak memegang gadget at least 1 jam sebelum tidur. Biarkan otak nggak pikir macem-macem dan jelek pokoknya. Sound easy but it’s not that easy to get your phone away from the bed lol. BUT, it’s really doable 🙂

That’s all I can share for now, bloggy! I gotta go prep my dinner. See you love!

2020

Sore hari terakhir di tahun 2020 ditemani dengan secangkir teh dan semangkuk kolak pisang. Ada banyak hal yang berbeda di tahun ini tapi tidak dengan rasa kolak pisang buatan nenekku. Tetangga sebelah kanan rumahku beberapa jam lalu ada yang meninggal dan terlihat beberapa penghuni rumah lain sibuk menyiapkan acara tahun baruan (makan-makan). Sungguh situasi yang kurang menyenangkan. 2020 akan berganti dalam hitungan jam. Tak lama lagi. Acara perayaan menyambut tahun baru ditiadakan, berita duka kasus Covid di linimasa masih aja terus ada, sampai kasus video syur si artis itu seakan nggak ada habisnya. Pengharapan apa yang diinginkan di tahun berikutnya? Flashback banjir, bushfire di Aussie, ledakan di Beirut dan di Nigeria, erupsi, pandemi Covid 19 dll menjadi peringatan beruntun untuk kita para penghuni bumi. Apa lagi yang dirahasiakanNya untuk kita di tahun 2021?

Sepertinya tak ada kata yang jauh lebih pantas dari “bersyukur”. Iya nggak ,sih? Masih bekerja, sehat dan keluarga di rumah baik-baik saja sudah lebih dari cukup menggambarkan bentuk syukur ini. Nggak kebayang jika berada di posisi seperti orang lain yang kehilangan orangtua, saudaranya karena Covid. But, we can’t mourn all the time. Ingat, hikmah pandemi ini banyak. Quality time bersama keluarga, hobby baru tercipta, kebersihan diri jauh lebih baik, empati ke sesama bertambah sampai emisi karbon menurunp. Ekspektasi di tahun 2021 tak perlu muluk-muluk. Tak perlu pula mengorek episode The Simpsons. Menebar sebanyak-banyaknya kebaikan, sekuat-kuatnya berdoa semoga pandemi ini segera berakhir dan kita semua diberikan kegembiraan, kebahagiaan bersama orang-orang terkasih dan kehidupan yang damai.

Selamat tahun baru 2021. Terimakasih 2020.

Trip in Bali : I am grateful for…

Tanggal 16 November saya mengajukan cuti untuk kali pertama di tahun ini. Hanya 2 hari saja soalnya sisa cuti lain akan saya pakai buat balik ke kampung (semoga boss approve). Alasan saya ngambil cuti kali ini adalah mirip tahun kemarin, at least dalam satu tahun I have to go somewhere to contemplate alone alias me time. Kali ini saya ngambil destinasi domestik coz we know situasi sekarang nggak memungkinkan untuk travel overseas. So I chose Bali tepatnya di daerah Ubud. Rencana perjalanan saya adalah hari Rabu malem berangkat ke Bali dan balik ke Jakarta Senin pagi. Ada banyak hal yang bikin saya makin menjadi orang yang bersyukur selama trip di sana (selain dikasih kesehatan buat trip, yah) diantaranya ;

  • Tempat nginap selama trip. Mau tidur di mana aja nggak pernah jadi issue buat saya. Selama barang-barang aman dan tempatnya layak dan baring-able, sikat. Waktu nyampe di Bali, saya nginap di Mushola bandara. Meskipun sebenarnya bisa aja book hotel di sekitar Kuta. Tapi karena males, mager dan ngantuk jadinya rehat semalam di Mushola. Setibanya di Ubud, yang saya syukuri banget nget nget adalah dapat tempat nginap yang perfect menurut saya. Viewnya keceh, adem, rindang, ratenya murah dan literally sendiri. Bener-bener sesuai ekspektasi saya sebelum ke Ubud. Staffnya juga baik, ngijinin check in jam 12 padahal harusnya jam 2 siang.
  • Driver gojek yang sangat sangat baik sekali. Ada kali 25-30x pesen gojek di Bali. Yang saya suka nih, yah karena semua driver gojeknya baik banget, supel, ramah dan sangat membantu. Pernah saya pasang titik jemput yang salah jaraknya sekiloan dari posisi saya sebenarnya, abang gojeknya masih baik sekali untuk muter sejauh itu. Ada juga yang nganterin saya ke salah satu toko karena toko yang saya datangi tutup (efek pandemi). Kata abangnya “Mau ke mana lagi mb? biar sy anterin.” Trus di hari lain juga sama, tempat makan yang saya datangi tutup, trus abang gojeknya bilang, cari aja mba tempat lain biar sy anter. Dan ada juga yang rela nungguin buat ambil laundry yang belum disetrika dan dilipat (saya mesti balik ke Kuta waktu itu jadinya buru-buru ngambil laundry). Mereka juga berbagi cerita soal Ubud selama pandemi, pokoknya ngobrol banyak hal. Bersyukur banget Gojek dah bisa beroperasi di bali. Nggak kebayang mesti rental lagi secara saya masih nggak berani bawa motor sendiri.
  • Tempat yoga dan meditasi yang super duper bagus, bikin perasaan saya tenang dan recharge my body. Inti dari trip ke Bali ini emang mau kunjungi satu tempat yoga yang sudah mendunia. Namanya The Yoga Barn. Konsep dari tempat ini bikin jatuh cinta banget, teduh and very relaxing. Selama saya di Ubud, saya tiap hari ke tempat ini. Yah, karena emang ini tujuan dari trip saya. I just can’t describe it through words. It’s beyond my expectation. Semua kegalauan, kecemasan, kepenatan bener-bener hilang dan healing pokoknya.
  • Mau terimakasih juga sama satu Mbak yang punya travel di Kuta, namanya Perama Tour & Travel yang bantuin saya dapat transportasi murah ke Ubud. Kebetulan waktu itu pagi-pagi main ke Kuta dan sarapan di Circle K mutusin nyari informasi buat ke Ubud. Dapatlah satu travel namanya Perama Tour &Travel. Lokasinya nggak jauh Circle K. Waktu itu saya bunyiin bel, nyahut permisi nggak ada orang. Untungnya di tepi jalan ada bapak-bapak yang bantuin untuk nyari yang mpunya rumah. Nggak lama, Mba yang punya travel keluar dan kami ngobrol. Duh, pokoknya kalau nggak dibantu ama beliau saya pasti sudah keluarin duit banyak waktu itu. Normally Grab/Taxi rute dari Bandara/Kuta-Ubud sekitar Rp250-280K, sementara yang saya dapat Rp 100K + supir yang ramah dan baik banget. Sebelum pandemi, rate normal untuk ke Ubud hanya 60K saja.
  • Saya tipe orang yang nggak suka banyak jajan kalau lagi traveling. Kan ada, tuh, orang kalau ke luar kota pasti niatin banget untuk shopping entah buat sendiri atau jadiin oleh-oleh. Kalau saya nggak, yah karena emang kurang suka aja. Tapi kali ini beda. Waktu itu saya maen ke kota dan nyari tempat makan soalnya laper abis yoga. Nggak sengaja lewat pasar Ubud yang kelihatannya bener-bener sepi pengunjung. Para pedagang bergantian manggil saya untuk liat-liat, tapi saya nggak mampir. Pas udah berdiri di luar pasar, saya muter balik lagi buat masuk ke sana. Saya kasian aja liat penjual di sana nggak ada yang beli barang dagangannya. Akhirnya masuk, saya mampir ke 3 penjual. Jujur saya nggak tau mau beli apa waktu itu soalnya nggak butuh dan emang nggak pengen belanja . Tapi pas liat-liat, saya putusin untuk beli celana, sarung bali dan tas. Yang saya mau beli waktu itu sebenarnya ada di satu penjual tapi itung-itung larisin dagangan pedagang lain, jadi saya ke tempat berbeda. Sumpah, kasian dengar cerita mereka 🙁 Nggak tukang ojek, pemilik travel, warung makan, pedagang di pasar semua kena imbas pandemi. Gila, sih. Syukurnya saya masih berkecukupan, mau traveling ada, mau makan ada. I am so so grateful. That’s why traveling alone will boost your happiness, empathy connect you with locals, rest your body and feel empowered.
The Yoga Barn
Menu makan malam hari pertama di Ubud (plant-based food)
Difotoin sama abangnya yang lagi bersih-bersih taman.
Keluar dari kamar dengan view kaya gini gimana nggak tenang coba.Saking sepinya nih yah, bunyi kodok, jangkrik dan burung-burung sampe kedengeran.