SHAME or FOOL ?

Beberapa bulan sebelum balik ke Indonesia, saya berulang kali diberitahukan oleh kordinator, senior-senior dan orangtua angkat bahwa saya nggak akan lagi menjadi orang Indonesia sepenuhnya, begitu pula orang Amerika sepenuhnya (sounds lebay,yak). Dengan kata lain, seperti pola pikir/cara pandang, tingkah laku, bahasa, sadar atau tidak sadar akan berubah. Ibaratnya, playdough kuning sebagai Indonesia, playdough biru sebagai Amerika berbaur menjadi Hijau (saya, yang sekarang). Pernyataan itu lebih diperkuat lagi setelah mengikuti seminar “Reverse Culture Shock” atau “Re-entry” bulan April 2019 di Texas. Di sana, peserta diberitahukan bahwa akan ada banyak situasi yang akan kamu dapat saat pulang ke negara kamu yang membuat kamu akan kembali “shock” setelah tinggal di Amerika. Beberapa di antaranya adalah soal tata tertib lalu lintas, waktu (on time), bahasa, dan masih banyak lagi.

Ngomongin soal bahasa, beberapa masukan dan cerita yang saya dengar juga adalah bahasa nasional perlahan- lahan akan “terganggu” ketika sudah berada di kampung halaman. Faktornya adalah karena setiap hari, selama di US menggunakan bahasa Inggris. Meskipun tinggalnya tidak bertahun-tahun di sana, akan tetapi ada situasi saat berbicara dengan orang-orang di negara sendiri akan menjadi riweh, entah diksi yang diucapkan tidak sesuai atau campur antara Inggris dan bahasa, yang akhirnya bagi BEBERAPA orang akan terdengar sok-sokan.

Jujur, saya mengalami hal tersebut saat beberapa minggu setelah balik dari US. Waktu itu saya nongkrong bareng teman, dan kebetulan meja kafenya lagi penuh dengan sisa makanan, gelas dan piring dari pelanggan sebelumnya. Aku tuh langsung ngomong gini ” El, tolong, dong, hapus di atas meja” Serentak temanku bilang, “Ha? Hapus? sekalian revisi” jawabnya sambil tertawa. Satu contoh itu yang tidak saya sengaja, tidak mengada-ngada, beneran!. That’s why I think, the re-entry does exist.

Ada lagi satu artikel yang pernah saya baca bahwa traveling abroad presents an ideal opportunity to master a foreign language. People are often surprised to find they have difficulty returning to their native language. Nah, saya mengalami satu kejadian yang bisa dibilang, kutipan artikel di atas cukup bisa saya benarkan. Tepatnya Senin lalu, tanggal 5 Agustus, 2019 di kantor, semua staff berkumpul di lobby karena akan ada pengumuman terkait dengan pemadaman listrik (blackout) yang terjadi di Kota Tangerang dan sekitarnya. Pihak management yang notabennya adalah expats, mereka (2 orang) menyuruh saya untuk berdiri di samping mereka, sambil menerjemahkan pengumuman yang akan mereka sampaikan ke karyawan. FYI, kebetulan tidak banyak dari karyawan yang bisa berbahasa Inggris. Saya tanpa ragu berdiri di samping mereka. Kalimat pertama saya terjemahkan yah oke-oke saja, tercerna oleh semua staff. Kalimat berikutnya, langsung buyar. Buyar karena penyampaian saya yang kedengaran terbata-bata dan isi kepala saya seutuhnya tahu maksud dan arti yang disampaikan oleh expat tersebut, tapi saya terkendala cara membahasakannya. Seketika, satu expat dengan lantang berkata ” ganti ..ganti.. Saskia”. Everybody is laughing (mostly I think). Saat itu juga, saya merasa bahwa Damn!! What’s wrong with me? Mengapa kalimat yang sebenarnya tak terlalu susah itu, sulit saya terjemahin?

Akhirnya diganti dengan satu staff untuk maju ke depan menggantikan saya sebagai “penerjemah”. You know what? Saat staff ini maju, (mostly) karyawan bertepuk tangan. Dalam hati saya bergumam, “Wait what? What is the applause for? It’s not even a National Spelling Bee“.

Cerita di atas sama sekali saya tulis untuk keperluan saya sendiri, dalam artian hanya ingin pure bercerita tentang apa yang pernah saya dengar sebelum balik ke Indo dan apa yang saya rasakan setelah berada di Indo; yakni soal Reverse Culture Shock. Adapun soal budaya nyinyir +62 yang mungkin akan beranggapan bahwa “Emang nggak tahu, alesan, nggak usah bawa-bawa US…” tidak masalah, not all of my stories to be told tho. Satu yang menjadi pelajaran buat saya yaitu saya sudah cukup mengetahui satu warna budaya tempat saya bekerja itu seperti apa. Again, kejadian tersebut juga secara langsung mengajari saya untuk mengetahui how to be a good translator or interpreter.