Be Brave. Take risks. Nothing can substitute experience.
– Paulo Coelho –
Sepertinya quote dari salah satu penulis favorit saya di atas cukup tepat menggambarkan perjalanan solo saya di Bagan, Myanmar. Sampai sekarang pun saya masih nyengir dan geleng kepala tiap inget apa yang saya lakuin di sana. Layaknya traveler lain yang menghabiskan harinya dengan pemandangan ribuan stupa, kuil, biara dan benteng di Bagan, ternyata ada segelintir hikmah yang luar biasa yang saya rasain, for real.
Tentu Bagan bukanlah destinasi impian saya, akan tetapi tempat ini lah yang membuat saya menjadi pribadi yang jauh lebih berani dari yang saya duga, lebih independent, lebih sabar dan pastinya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Boleh dikatakan, ini adalah perjalanan solo terbaik (so far) dan tak terlupakan di hidup saya.
Berikut highlights perjalanan saya di salah satu situs warisan dunia ini;
- Auto pintar bawa motor. Jam 5 subuh saya tiba di terminal Bagan dan naik taxi ke penginapan. Waktu itu lagi hujan dan niat saya liat sunrise dan hot air baloon masih semangat-semangatnya. Pagi buta saya ikut sama yang punya guesthouse buat ngecek apakah pagi ini ada balon udara atau nggak. Pas tiba di area balon udara, si Bapaknya bertanya ke salah satu orang dan dia kemudian mengiyakan bahwa pagi ini ada balon udara. OK! thank you so much. Akhirnya puter balik ke penginapan. Nah, setelah berbincang-bincang sama 1 staff dan si Bapak ini, akhirnya mau nggak mau aku nyewa e-bike. Motor elektrik. Kami bertiga menuju parkiran (depan guesthouse) dan staffnya ngenalin si e-bikenya (ini rem, lampu, gas, dll). Dalam hati, mampus! Aku nggak pernah bawa ginian apalagi di jalan raya. Tapi entah mengapa, saya mengiyakan saja, act like a pro dan pas mulai gas eh …. hampir jatoh. Jalan masih gelap dan hujan sudah mulai redah. Awalnya salah jalur soalnya aku ngambil kiri, duduk pun juga masih kaku bener. Pokoknya kedua tangan saya sampe nggak ngusap muka yang udah basah karena air hujan. Nah, pas sampai di titik lokasi sunrise (sekitar 20 menit dari guesthouse), mau turun dari motor eh malah kegas, hampir nabrak turis dan diliatin orang. Aku minta maaf dan kasih tau turis itu that this is my first time riding bike. Tiba di lokasi, lah, kog turis-turis dah pada balik semua, yah? Aku dah punya firasat wah, jangan-jangan nggak jadi. Beneran, nggak ada balon udara alias failed. Yah, mau gimana lagi. Anyway, ngomong-ngomong soal bawa motor, alhamdulillah lama kelamaan dah terbiasa, mulai terkontrol dan speed lebih kenceng. Pokoknya dalam 2 hari udah ratusan kilometer deh keliling Bagan bareng e-bike ini. *songong
- Alone in the darkness. Hari pertama gagal liat balon udara. Keesokan paginya, aku bangun jam 4:40, shalat subuh dan siap-siap untuk liat sunrise dan balon udara. Cuaca ok. Saya kemudian bergegas ngambil e-bike dan siap meluncur ke salah satu tempel yang ternyata sangat jauh dari penginapan. Kata staff guest house yang jaga sebelum saya pergi “Jangan lewat jalur ini, banyak pohon. Lewat sini saja.” Trus aku iyakan. Aku lewat sesuai jalur yang disarankan tapi nggak cukup 2 menit, aku muter balik dan ngikutin Google Map. Ternyata eh ternyata, benar saja kata staff tadi, saya berada di antah-berantah. Sumpah, jalan yang saya lewati gelap total, hanya ada lampu e-bike saya yang menerangi, semua lampu jalan udah pada mati. Dalam hati, OMG! this is like a crime scene. Jujur aku sempet takut juga secara gw sendiri ng ada orang sama sekali, nggak ada kendaraan yang melintas. Udah nggak mau bayangin yang nggak-nggak. Aku cuma bilang ke diri gw “bentar lagi terang, bentar lagi terang”. Saya akui, ini adalah salah satu keberanian saya yang nggak tau datang dari mana.
- Lost in a sacred place. Ini kelanjutan dari mengendarai motor di pagi buta. Karena kepolosan saya, saya masuk di salah satu temple yang keliatannya sama dengan spot di artikel yang saya baca untuk ngeliat sunrise dan balon udara. Sebenarnya di Google Map emang belum sampai di tujuan, sih, tapi I dunno tiba-tiba mau belok saja. Satu tempel yang saya nggak tau namanya, lokasi sekitar 100 meter dari jalan raya. Aku masuk ke gerbang temple itu dan di situ aku baru ketakutan tapi berusaha menenangkan diri. Dalam temple itu, ada 1 pohon beringin gede di tengah dan again nggak ada siapa-siapa. Masih gelap, loh, yah. Pernah nggak, sih, kalian berada di satu kondisi yang pengen lari cepet tapi nggak bisa? Aku udah pengen cepet-cepet keluar dari sana tapi like I was freezing. Bener-bener mirip reality show horor gitu, suer dah.
- Foto di kuburan. Aku kasih tau nih, keuntungannya jalan sendiri dan bawa kendaraan sendiri adalah kita bisa berhenti kapan pun dan di mana pun. Hari terakhir, aku masih berjibaku dengan panorama pagoda, stupa dan kuil di Bagan. Intinya 2 hari di sini saja nggak cukup explore semua tempat. Ditengah perjalanan, eh tiba-tiba aku liat ada satu spot menarik . Ada ilalang dan stupanya cantik, padat dan nggak ada orang. Langsung markir dong, keluarin tripod dan pose sambil senyum tanpa alasan hahaha. Pas udah ngambil foto, aku jalan muterin stupa, eh ternyata eh ternyata itu kuburan cuk. *Auto jalan cepat, Assalamualaikum.
- Nyusup di ladang jagung. Moment terbaik untuk self-reflection saya temukan di sini, yeap, bekas ladang jagungnya orang. Pagi hari yang cerah, setelah saya berlari nyari spot lain untuk menikmati balon udara. No kidding, this one is one of the best spots. Sendiri sambil memandang balon-balon udara yang melintas tepat di atas saya. Di sana saya berdiam sejenak dan refresh my mind again what I have been through this year. Pokoknya, that was the best morning ever in 2019.
Demikianlah sekelumit perjalanan solo saya di Bagan. Tentunya masih banyak bahan cerita yang saya punya. Saya rasa nggak perlu saya utarakan semua di sini, mari bersua dan bercengkrama ditemani dengan secangkir kopi.
THANK YOU, BAGAN!
My buddy Selfie di kuburan
