Part 1 : Me-nimalism ?

Why do we own so many things when we don’t need them? What is their purpose? I think the answer is quite clear: We’re desperate to convey our own worth, our own value to others. We use subject to tell people just how valuable we are

Goodbye, things: on minimalist living Fumio Sasaki

Buku yang saya baca dan menurut saya really eye-opening. Mungkin kalian bertanya-tanya; Saskia, jadi seorang minimalist? nggak mungkin lah Saskia jadi minimalist. Ih, sok banget. CHILLLLLL everybody! Saya jadi seorang minimalist? akan dan iya. Setelah saya balik dari US, saya tertarik dengan lifestyle ini. Well, minimalism ini sudah saya dengar beberapa tahun lalu, bukan model griya unik, yah, akan tetapi sederhananya lebih ke konsep a life with more meaning. Di dalam buku Essential: Essays by the minimalists, penulis bilang bahwa “Minimalism is the thing that gets us past things so we can make room for life’s important things-which actually aren’t things at all”. Mengapa saya tertarik dengan konsep minimalism ini? Lemme tell you my story.

Tepatnya 4 bulan lalu, ketika seminggu sebelum saya balik ke Indonesia, saya mesti mengepak barang dan membersihkan kamar saya. It took me a whole week to clean my own closet. I have thousand stuff in my tiny room. I can’t imagine. Saya sempat nangis karena mesti ngepak sendiri, stress, bingung mau ngepak mulai dari mana. That was frustrating, stuffocating. Sampai sehari sebelum penerbangan ke Indo, saya masih beresin kamar. Barang yang paling memusingkan saya adalah pakaian. Semua pakaian saya kumpulkan di lantai dan saking banyak dan stress ngeliatnya, saya biarkan menggunung begitu saja beberapa hari. Setelah berhasil mengumpulkan tenaga, finally, 99% of my clothes were end up in a giant black plastic bag. Sebelum packing dan beberes, saya sempat terdiam, duduk, merenung sambil melihat tumpukan barang-barang itu. No joking, I was questioning myself, why I bought all of these? why did I do this? am I happy? and I kept telling myself. Pokoknya selama seminggu itu saya seperti orang gila, ngomong sendiri, jengkel sendiri dan bertanya-tanya. Wajar, saya tipe INFJ, jadinya gitu 😀 Di tengah-tengah packing, teringat dengan buku Marie Kondo yang saya baca setahun lalu yang berjudul “The Life-changing Magic of tidying up”, Dia bilang tinggalkan barang-barang kamu, jika itu tidak membuat kamu bahagia. Dia menyebutnya dengan istilah “sparks joy”. Salah satu KonMari method yaitu Dia menyuruh kita menyentuh barang tersebut, kalau nggak ngena di hati dan feelingnya biasa-biasa saja alias nggak ada “spark joy nya”, yah buang aja. So I did that. Alhasil, itulah tadi, plastik hitam BESAR yang penuh dengan pakaian. Daripada dibuang, saya memutuskan untuk menyumbangkan 1 kantong plastik tadi (setinggi dagu saya dan itu berat banget) plus buku, aksesoris, syal dan 8 pasang sepatu. Bukan sok pamer, cuma ngasih tau aja apa yg disumbangin eh. Just kidding. Barang-barang itu saya donasikan ke pengungsi berhubung semua masih layak pakai dan Alhamdulillah disalurkan oleh salah satu orang tua angkat saya di US. Ketika semua beres, ada perasaan senang, lega yang timbul ketika memutuskan untuk tidak membawa barang-barang tersebut. At the end, meskipun koper saya penuh (sesuai jatah bagasi) dengan oleh-oleh, buku, stationeries, pakaian. Believe it or not, saya hanya membawa pulang 4 baju, 3 celana, 3 bra, selusin undies dan 4 kaos kaki (sepasang kaos kaki yang dikasih sama pacar waktu di Indo dan 3 lainnya beli di Arizona). Sempat merasa nggak enak juga,sih, soalnya ada beberapa pemberian dari teman yang tidak saya bawa pulang. Banyak pernak-pernik lucu yang tidak akan saya dapat di Indo tapi mesti saya ikhlaskan. *sigh*

Ngomongin soal metode KonMari yang expert dengan trik beres-beresnya yang bisa mengubah kehidupan seseorang lebih menjadi bahagia, itu memang benar. Beres-beres, bersih-bersih apalah namanya, saya salah satu orang tersebut. Go Figure! Siapa sih nggak senang rumah bersih, kamar bersih, barang-barang tertata rapi. Pasti mood pun akan baik. Sedikit cerita, sejak kelas 2 SD saya sudah digembleng ala militer oleh om saya. Mesti bangun pagi, nyapu, bersihin rumah sebelum sekolah. Hari minggu bukannya maen, malah disuruh nanem bunga, bersihin halaman yang penuh dengan dedaunan pohon mangga dan kedondong, cuci baju sendiri, bersihin dapur (masih berlantaikan tanah) AND It sucks dan yang paling saya benci adalah bersihin kotoran kucing. EWWWWW. Saya dan kakak saya sampai buat jadwal bersih mingguan loh, ditempel di belakang lemari kayu waktu itu (partisi antara ruang tamu dan ruang keluarga). Saya masih ingat sekali, jadwalnya dibuat di selembar kertas yang diisi dengan tabel Senin-Minggu pake’ krayon warna-warni dan sebagai penghias saya menggambar ikan koi di pojok kanan atas roster. Imbalannya apa waktu itu? majalah Bobo. I never regret that, ternyata jam main saya yang berkurang dibanding anak-anak lain ada hikmahnya dan berbekas sampai sekarang. Sampai akhirnya tumbuhlah menjadi saya sekarang ini. Jadi apa? prokprokprok. I am a very well-organized person, saya senang melihat rumah yang bersih, ruangan yang bersih, perabot yang teratur. Sampai sekarang, buku-buku, saya atur sesuai dengan warna cover, alat tulis saya kumpulkan di satu storage, tempat tidur saya mesti rapi, saking rapinya kadang saya malah memutuskan untuk tidur di lantai. Geblek, kan? AHAHHA abis, sepreinya lucu ditambah dengan beberapa buku di atas kasur, nggak rela aja gitu.Well, that’s me.

So, back to the minimalism! Am I a minimalist? I will be and still on progress, tenang, saya belum masuk levelnya Joshua Becker, Courtney Carver atau Ryan Nicodemous. Masih jaooooohhhhh. Oh wait, jangan salah kaprah,yah, konsep minimalism is different from tidying up. Seperti yang disebut Joshua Becker dalam bukunya The More of Less, bahwa “Organizing has its place, but it’s not the same as minimizing. Organizing our stuff (without removing the excess) is only a temporary solution. We have to repeat it over and over”.Make sense?

Nah, sekarang ini saya merantau di pulau Jawa dan sejak balik dari US, saya memutuskan untuk tidak menghamburkan banyak duit untuk pakaian. Di awal bulan pertama saya bekerja, hanya belanja beberapa baju dan sepatu kantor, yah karena emang butuh. Saya memutuskan untuk tidak membeli lemari pakaian, saya tetap menggunakan koper saya sebagai pengganti lemari yang sizenya mirip lemari ahahhaa nggak, cuma jaga-jaga aja biar nggak kalap belanja dan pakaian saya bisa terkontrol dengan baik. So far total pakaian buat ngantor, hangout dan buat di rumah adalah 37 pieces. Tiga bulan ngantor memang pakai baju itu-itu aja but hey! does anyone notice? I don’t think so, or maybe. Do I care? I don’t give a sh*t. Selain pakaian, tas juga saya kurangi. Tas buat gawe hanya 1 saja, my beloved Kanken backpack dan 1 totebag untuk hangout. That’s all. I am still laughing at myself waktu saya kerja beberapa tahun lalu, saya gonta-ganti tas ke kantor (I was a Gosh lover) at that time. Senin ampe Rabu beda, Kamis-Jumat beda, Sabtu beda. Begitupun dengan sepatu. Koleksi sepatu dan sandal yang berjejeran di rak dan dinding kamar. That’s a lot dan kamar saya menjadi padat. Untungnya, tersusun rapi jadi masih enak liatnya. Am I happy that time? yeah I think so. Happy karena memiliki barang yang disenangi dan mampu untuk membeli. But NOW, what’s that for? do I need all of ’em? I ended up with the heap of luggage, overflowing drawers and shelves. Barang-barang yang pernah saya beli pun sudah lupa saking banyaknya. Sebagian besar masih di kampung, sih, dan rencana kalau mudik InsyaAllah, mau ngobrak-ngabrik, jual, buang, sumbangin barang-barang itu. Top list saya tentunya adalah pakaian dan yang terakhir adalah buku. Mengapa buku? Karena ini barang ini yang paling sentimental buat saya. Untungnya, Joshua Becker bilang ” take it easy, you don’t need to start with the hard stuff. Start easy. Start small. Just start somewhere.” hehe

PS: Saya sengaja nunggu 3 bulan buat nulis ini. Because I am learning and I wanted to know how does it feel. It’s like a new calling for me since my closet cleaning experience. Meskipun sebenarnya decluttering barang-barang seperti yang saya lakukan, bukan konsep dasar dari minimalism itu sendiri. Akan tetapi lebih ke personal saya yang bertanya soal MENGAPA bukan terpusat pada APA yang harus saya buang dan berapa banyak stuff yang saya punya sekarang. Mengapa saya menjadi seorang cewe’ yang terlalu konsumtif, why am I discontent?. Mengadopsi minimalism ini memang tidak mudah, saya masih belajar dan mendalaminya. I need to set my mind to into it. I believe one day will get the answers and paid off *finger crossed. Now, let’s focus on minimize things and maximize happiness eaaakkkk. The last but not least, ada satu quoteyang aku suka dari film dokumenter The Minimalist ;

“Eventually, I mean, happiness had to be somewhere just around the corner. I was living paycheck to paycheck. Living for a paycheck. Living for stuff. But, I wasn’t living at all.” Ryan Nicodemus