
Judul tulisanku kali ini terinspirasi dari Livi Zheng dan cuitan Joko Anwar (foto tiket nonton di Hollywood XXI) yang saya pikir pas juga buat cerita saya sewaktu di Los Angeles. Sedikit cerita soal perjalanan libur Spring di US, saya dan teman-teman ke LA beberapa hari untuk sejenak melihat kota, hedonisme orang-orang di LA yang tidak dijumpai di Arizona, tepatnya kecamatan Mesa hahaha.
LA ternyata beda jauh ama kota-kota lain di California dan state lain di YUES. Ramainya tuh beda ama New York. Asians lebih keliatan rame di sini. Waktu liburan sekolah, saya dan teman-teman ke Beverly Hills which is B aja, ke Walk of Shame Fame, ke lokasi syuting Film La La Land di Griffith Observatory (di sini bisa liat Sign Hollywood), Santa Monica Pier dan Getty Villa.
Saya minta izin ke koordinator untuk ME TIME alias jalan-jalan sendiri buat keliling kota Los Angeles. Waktu itu saya putuskan ke toko buku yang terkenal di LA, The Last bookstore. Aku juga ngambil paket tour Dolby Theatre dan juga ke LACMA (Los Angeles County Museum of Art). Mengapa saya ke lokasi tersebut? Yah karena teman-teman dan kordinator saya pada ke Universal Studio which is nggak menarik buat saya dan nggak mau menghabiskan uang ratusan dollar buat ke sana. Ngapain ngamburin duit buat ke destinasi yang nggak bikin kita tertarik, ya kan? Mending jalan sendiri. Mereka pagi-pagi dah berangkat dari motel ke Universal studio dan disitu juga saya kirim sms ke kordinator buat minta ijin ke tempat-tempat yang saya sebutkan tadi. Balasan sms dia seperti ini;
Can you take another person? How do you plan to get back to the motel? Please check in with me and be available by phone and also give me a time you’ll be back at the motel. I am thrilled that you want to see the art museum.
Tujuan pertamaku adalah tour di Dolby Theatre. Yang suka liat Academy Awards aka piala Oscar, nah pasti tau tempat ini. Ajang perfilman bergengsi dimana para bintang Hollywood berkumpul dengan segala macam gayanya berlenggak- lenggok di atas red carpet. Dolby Theatre ini berada di lokasi Hollywood Walk of Fame, itu tuh nama-nama artis yang dinjek-injek itu loh yang terpampang nyata bukan fatamorgana di sepanjang trotoar Hollywood Boulevard. Saya sempet lari waktu itu karena tour yang saya ambil sudah hampir mulai dan mesti gercap karena sesi yang saya ambil adalah sesi terakhir. Masih ingat sekali, saya adalah peserta tour paling terakhir yang datang dan guidenya udah hampir nutup pintu waktu itu. Wooooosah. Tiketnya sendiri saya beli sebelum berangkat ke LA karena saya nggak mau ke Universal Studio. Nah, tiba di dalam, tour guidenya jelasin segala macam sudut dan ruangan di dalam theatre. Theatrenya gede’ dan katanya tema tiap tahunnya berbeda-beda disulap menjadi tempat yang megah. Waktu itu kami ke VIP room tempat dimana selebrity biasanya duduk manjah, ngobrol sambil minum wine. Kemudian ke ruangan inti yang tidak lain tidak bukan adalah panggung dan theatre Oscars. It’s HUGE. Gede banget. Sempet mikir mimpi apa Saya, yah, bisa masuk ke ruangan itu dan duduk di kursi yang pernah Mery Streep dan Nicole Kidman duduki. Selain sejarah Oscar, tour guidenya juga bawa pengunjung ke beberapa ruangan lain, masuk ke satu ruangan which is tidak semua selebrity bisa masuk karena itu dibuat untuk para pemenang Oscar saja. Overall, tempat ini buat saya WOW-ing terus pokoknya.



Abis tour, saya makan siang di McD deket Dolby dan lanjut ke LACMA. Mengapa saya ke sini? Karena saya sempat liat postingan teman yang katanya di luar museum ada 1 spot yang instagramable mirip tempat hangout yang ada di Bandung, Rabbit Town. Benar saja, emang mirip sih (liat hasil browsing). Tiba di LACMA dan liat spot foto yang mirip di Bandung itu, ternyata again and again B aja. Nggak lama sekitar 15 menit, saya berbalik arah dan memutuskan ke tujuan terakhir, The Lastbookstore.

Jarak dari LACMA ke toko buku ini lumayan jauh. Lagi-lagi saya salah ngambil bus soalnya nggak perhatikan kode busnya. Nomor bus sama tapi kode arahnya beda. Sempat mau balik ke motel waktu itu karena hp udah mau lowbat, nggak bawa chargeran dan takutnya nyasar nanti. Saya mikir, ah tanggung nih masa nggak maen ke toko buku itu, sih? Jadilah saya berjalan ke halte dan menunggu bus ke arah toko buku itu. Sekitar 40 menit, tiba dan jalan dari halte ke toko buku selama kurang lebih 5 menit, akhirnya nemu tempatnya. Seeeennneeeng banget. Dari luar nggak keliatan toko buku. Tau-tau masuk, wow ketjeh parah nih. Konsepnya keren, classic, cozy dan rame cuy. Jarang-jarang liat konsep toko buku kaya gini. Saya habisin 40 menit dan bergegas pulang karena dah mau malam.

Pas keluar dari toko buku menuju halte, tau-tau bis yang saya mesti naiki dah hampir mau jalan. Sementara saya masih nunggu di seberang karena lampu merah. Nyesek banget, bus di depan mata, pas lampu pejalan kaki nyala, eh bus nya berangkat. SAAAAAKIIIITTTTTTTT, 30 menit nunggu cuy. Aseeemm banget. Jadinya mati gaya di halte jorok itu yang bau ganjanya sangat menusuk ckcckkc.
Wallahu yuhibbu sobirin. Bus nya perlahan-lahan muncul dari kejauhan. You know what? berapa total stop untuk sampai ke motel saya? 51 stops. Jauuuuuuuuhhhh banget, sampai hampir melihat se-Los Angeles gitu. That’s the good part tho. Cek per cek HP masih nyala, saya akhirnya ngirim sms ke Koordinator dan bilang gini…
“in the bus now heading to the motel. Now I am at Broadway. 51 stops ETA: 7:30”
Trus sejam kemudian Koordinator bales
” Are you close?”
Ku jawab: ” Yeap, one more bus. I am at 4th Santa Monica. 5 stops from Motel.”
Nggak lama setelah kirim kabar, bisnya datang dan Alhamdulillah tiba di motel dengan selamat mat mat mat mat. Begitulah, cerita menembus Hollywood versi seorang Saskia Rajayani. 😛 55555