Sore hari terakhir di tahun 2020 ditemani dengan secangkir teh dan semangkuk kolak pisang. Ada banyak hal yang berbeda di tahun ini tapi tidak dengan rasa kolak pisang buatan nenekku. Tetangga sebelah kanan rumahku beberapa jam lalu ada yang meninggal dan terlihat beberapa penghuni rumah lain sibuk menyiapkan acara tahun baruan (makan-makan). Sungguh situasi yang kurang menyenangkan. 2020 akan berganti dalam hitungan jam. Tak lama lagi. Acara perayaan menyambut tahun baru ditiadakan, berita duka kasus Covid di linimasa masih aja terus ada, sampai kasus video syur si artis itu seakan nggak ada habisnya. Pengharapan apa yang diinginkan di tahun berikutnya? Flashback banjir, bushfire di Aussie, ledakan di Beirut dan di Nigeria, erupsi, pandemi Covid 19 dll menjadi peringatan beruntun untuk kita para penghuni bumi. Apa lagi yang dirahasiakanNya untuk kita di tahun 2021?
Sepertinya tak ada kata yang jauh lebih pantas dari “bersyukur”. Iya nggak ,sih? Masih bekerja, sehat dan keluarga di rumah baik-baik saja sudah lebih dari cukup menggambarkan bentuk syukur ini. Nggak kebayang jika berada di posisi seperti orang lain yang kehilangan orangtua, saudaranya karena Covid. But, we can’t mourn all the time. Ingat, hikmah pandemi ini banyak. Quality time bersama keluarga, hobby baru tercipta, kebersihan diri jauh lebih baik, empati ke sesama bertambah sampai emisi karbon menurunp. Ekspektasi di tahun 2021 tak perlu muluk-muluk. Tak perlu pula mengorek episode The Simpsons. Menebar sebanyak-banyaknya kebaikan, sekuat-kuatnya berdoa semoga pandemi ini segera berakhir dan kita semua diberikan kegembiraan, kebahagiaan bersama orang-orang terkasih dan kehidupan yang damai.
Selamat tahun baru 2021. Terimakasih 2020.